Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ibadah Haji Metaverse, Bagaimana Tanggapan MUI?

Ibadah Haji Metaverse, Bagaimana Tanggapan MUI? - Dikutip dari USA Today, Rabu (9/2), Metaverse merupakan kombinasi dari banyak elemen teknologi termasuk VR, augmented reality (AR) dan video dimana pengguna dapat berinteraksi di dunia digital. Pengguna Metaverse dapat bekerja, bermain, dan tetap terhubung dari konser dan konferensi hingga perjalanan virtual ke seluruh dunia.

Imam Masjidil Haram, Sheikh Abdul Rahman Al-Sudais, adalah orang pertama yang bereksperimen dengan teknik ini. Desember lalu, ia mengenakan kacamata realitas virtual pada upacara pembukaan. Middle East Eye mengutip Al-Sudais yang mengatakan Desember lalu, "Kerajaan Arab Saudi memiliki situs keagamaan dan sejarah besar yang harus didigitalkan dan dikomunikasikan kepada semua orang dengan sarana teknologi baru."

Namun, inisiatif tersebut telah menjadi subyek banyak perdebatan. Misalnya, Kepresidenan Urusan Agama Turki atau Diyanet mengatakan bahwa umat Islam dapat mengunjungi Ka'bah di Metaverse tetapi kegiatan ini tidak dianggap sebagai ibadah.

IBADAH HAJI METAVERSE, BAGAIMANA TANGGAPAN MUI?

Ibadah Haji Metaverse, Bagaimana Tanggapan MUI?
“Haji harus dilakukan dengan pergi ke Kota Suci dalam kehidupan nyata. Dianet Remzi Bircan, Direktur Departemen Layanan Haji dan Umrah, menyatakan bahwa Ka'bah versi Metaverse menjadi kontroversial di kalangan umat Islam di seluruh dunia setelah peristiwa “Virtual Black Stone Initiative” di Arab Saudi pada bulan Desember ".

Bagaimana sikap MUI menyikapi hal ini?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut ziarah virtual itu ilegal. Haji virtual tidak memenuhi persyaratan hukum untuk rukun haji.

Demikian disampaikan Ketua MUI Fatwa Asorun Niam di Markas Besar MUI, Jakarta, Kamis (10/2/2021). Dijelaskannya, pelaksanaan ritual umrah tidak cukup hanya dengan mengunjungi Ka'bah sebenarnya. Haji adalah ibadah yang pasti dan terbagi, dan tata cara pelaksanaannya telah ditentukan oleh kehadiran fisik.

Dia menambahkan bahwa "Haji adalah ibadah agama di alamnya, dan tata cara pelaksanaannya didasarkan pada apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW,

Pelaksanaan haji juga terkait dengan tempat-tempat tertentu, seperti melakukan tawaf. Tata caranya adalah melingkari Ka'bah sebanyak 7 kali, dimulai dari sudut Hajar Aswad sebenarnya dengan Ka'bah di posisi kiri. Dia menjelaskan bahwa "ritual haji dan umrah tidak dapat dilakukan dalam hati, angan-angan, atau hipotetis. 

Juga tidak dapat dilakukan dengan melampirkan gambar Ka'bah, atau replika persis Ka'bah." Namun, kata dia, platform metaverse bisa dilihat sebagai nilai positif. Platform tersebut dapat memudahkan calon jemaah haji dan calon jemaah umrah untuk menelusuri lokasi-lokasi tempat kegiatan ibadah akan dilakukan dengan mengetahui lokasi Ka'bah secara tepat.

"Kemudian mulai dari mana nanti tawafnya kemudian di mana Al Mustajabah tempat-tempat mustajab, di mana makam Ibrahim, kemudian di mana Hajar Aswad, kemudian di mana rukun yamani, dan juga di mana mas'ah," katanya.

Ia menilai kemajuan teknologi bisa memudahkan calon jemaah haji untuk bisa mengidentifikasi situs dengan gambar. Secara fisik mengunjungi Ka'bah dapat ditingkatkan untuk eksplorasi dan mengenali lebih dekat, dengan 5 dimensi agar ada pengetahuan yang lengkap dan memadai sebelum melakukan ibadah. 

Ia menyimpulkan, “Ini bagian dari inovasi teknologi yang perlu disikapi secara proporsional. Teknologi yang mendorong kemudahan, namun sekaligus harus kita pahami, tidak semua kegiatan ibadah bisa digantikan oleh teknologi.”

Posting Komentar untuk "Ibadah Haji Metaverse, Bagaimana Tanggapan MUI?"